Minggu, 16 September 2018

SENANG DAN HARU MENUJU TANAH SUCI

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Teman-teman kaum muslimin dan muslimah yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan sedikit pengalaman seseorang yang telah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.
Seperti yang kita ketahui, menunaikan ibadah haji adalah suatu kewajiban bagi setiap orang yang beriman kepada Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.”
(QS. Ali Imran [3]: 97).

Adapula dinyatakan dalam hadits Nabi Muhammad Salallahu Alihi Wassalam, yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:

“Saya mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, bersabda: “Islam didirikan atas lima sendi yaitu mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, mengerjakan salat, mengeluarkan zakat, mengunjungi Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Alquran, Assunnah, dan ijma’ para ulama menetapkan bahwa haji merupakan fardhu ‘ain bagi muslimin dan muslimah yang sanggup mengerjakannya. Maka, apabila kita sudah berkecukupan serta mampu melaksanakan Haji baik dari segi finansial, jasmani dan rohani. Sudah sepantasnya kita mengutamakan untuk menunaikan ibadah Haji. Bagi yang masih mengusahakannya, semoga diberi kemudahan oleh Allah. Amin Ya Rabbal Alamin.

Seperti yang sudah saya janjikan di awal, saya akan menyampaikan sedikit pengalaman dari seorang jamaah yang sudah menunaikan ibadah Haji. Beliau bernama H. Mahmud H. M Yusuf. Bertempat tinggal di Jl. Raya Wajok Hulu,  gang Parit Brahima. Beliau diberi kesempatan oleh Allah melaksanakan ibadah Haji pada tahun 2012.

Saat ditanya, bagaimana kesan dan perasaan beliau ketika melaksanakan ibadah haji? Beliau mengaku sangat senang. Terlebih saat melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, melempar jumrah dan prosesi ibadah haji lainnya. “Sukelah sampai sana’ sampai gak cite-cite Datok, niat Datok. Alhamdulillah tadak saket, selalu sehat dan bise dapat (melaksanakan kegiatan) semuanye di sana’.” Ucapnya. Beliau juga merasa terharu dan sangat senang tatkaka dapat melihat Ka’bah dari dekat.

Secara finansial (keuangan), beliau dapat melaksanakan ibadah Haji ini karena mendapat hasil dari menjuat tanah warisan orangtuanya. Tidak hanya beliau, tetapi saudara saudari beliau pun dapat ikut bersama pergi ke Tanah Suci. Selain itu, keluarga yang ditinggalkan pun tidak berkekurangan dan semuanya dapat tercukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebelum waktu keberangkatan Pak H. Mahmud melaksanakan ibadah Haji, beliau telah melakukan berbagai pelatihan manasik Haji di Masjid Nikmatullah, Mempawah. Selain itu, beliau juga belajar dan membaca buku-buku yang berkaitan tentang pelaksanaan ibadah haji. Dimana buku tersebut memang telah disediakan oleh Kemenag RI Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. 

Sebenarnya beliau masih belum terlalu memahami tentang prosesi pelaksanaan ibadah haji tersebut. Sebab kondisi beliau yang mendadak dalam berangkat dan melaksanakan haji. Setahun lebih setelah mengajukan Pak H. Mahmud sudah dipanggil untuk mengikuti pelaksanaan tersebut. Sehingga tidak terlalu banyak persiapan.

Sebab, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pak H. Mahmud pun melakukan ihram  haji ketika tiba di bandara Airport King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah. Akan tetapi, sebenarnya sebelum pesawat mendarat beliau beserta rombongan memang sudah disuruh untuk melakkukan ihran niat haji. Beliau mengatakan, kalau melakukan ihram haji melewati tempat yang telah ditentukan, maka ia akan mendapatkan Dam (denda). Beliau memahami bahwa ihram adalah niat masuk untuk melaksanakan ibadah haji dan dengan mengenakan kain ihram atau pakaian untuk berhaji.

Saat ditanya tentang Haji Tamattu’, beliau mengaku tidak mengetahuinya. Akan tetapi sedikit gambaran, Haji Tamattu’ adalah mendahulukan umrah dari ibadah haji. yaitu memakai ihram dari miqat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahalul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijjah). bagi yang melaksanakan haji Tamattu' diwajibkan membayar Dam. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Haji_tamattu%27)

Baiklah teman-teman, mungkin hanya itu saja pengalaman singkat dari Pak H. Mahmud yang dapat saya sampaikan. InsyaAllah, di lain kesempatan saya akan membahas sedikit lebih dalam tentang pelaksanaan Haji dan Umrah serta hukum-hukum (fiqh) dalam pelaksanaannya. 
Semoga dapat bermanfaat dan dapat menjadi gambaran untuk kita para calon jamaah Haji dan Umrah di masa yang akan datang. Akhirul Kalam.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Kamis, 27 Juli 2017

SEBERKAS GORESAN PENA



Mengingat kembali

Rara berjalan sendirian menyusuri Taman Alun-Alun Kapuas ini. Kemudian, ia duduk di bangku panjang di bawah pohon yang rindang. Suasana sore seperti inilah waktu yang sangat di sukai Rara untuk bersantai. Melihat langit yang sudah mulai gelap sambil di terpa angin yang menyejukkan hati. Sepucuk surat pun tak lepas dari genggamannya. Sekilas ia memperhatikan surat itu, sambil mengingat kembali kenangan yang telah ia lalui.
***
   “Ma, Rara pegi dulu ye! Assalamualaikum.” Gadis itu pun segera bergegas pergi setelah mencium tangan ibunya.
  “Iye kak, hati-hati di jalan tu. Waalaiakumsalam,” jawabnya sambil melihat anaknya yang sudah berjalan keluar rumah
Rara berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Pontianak. Ia adalah tipe gadis pendiam, dan tak mudah bergaul dengan teman sekitarnya. Karena itulah, sampai saat ini ia tidak memiliki teman. Hanya buku-buku dan diarynya saja yang selalu menemaninya dimanapun dan kapanpun.
            Rara berencana ingin ke Perpustakaan dan meminjam beberapa buku pelajaran sebagai bahan materi untuk makalahnya. Ia pun segera ke rak-rak buku dan mencari buku yang ia perlukan. Ketika ia menemukan buku itu ia pun menariknya, tiba-tiba ada seorang pria berdiri di balik rak buku yang ada di hadapannya. Rara dan pria itu saling bertatapan sekilas.Pria itu tersenyum, namun Rara mengalihkan pandangannya. Dan berlalu menuju loket peminjaman buku.
            Pria itu tampak penasaran dengan Rara. Ia pun langsung berlari menemui Rara dengan membawa beberapa buku di tangannya.
“Hai, assalamualaikum,” ucap pria itu.
“Iya, waalaikumsalam,” jawab Rara sambil menundukkan pandangannya.
“Kamu Rara kan, Mahasiswa semester 3 A!”
“Iya, ada apa ya?”
“Oh,nggak ada apa-apa kok!”
Rara pun hanya terdiam sambil memberikan buku-buku yang akan dipinjamnya ke petugas perpus. Setelah bapak itu mencatat buku-buku yang Rara pinjam, ia pun langsung memberikan buku-bukunya.
“Makasih ya pak!”
“Iya sama-sama,” jawab bapak tersebut.
Pria tadi hanya memperhatikan setiap perilaku Rara dengan seksama. Entah mengapa, pria itu terlihat tertarik pada kepribadian Rara yang kalem.

***

Suasana kelas ribut karena debat antara narasumber dan penanya dalam diskusi materi yang dibawakan oleh kelompok 2. Penanya kali ini adalah Rara. Rara memang pendiam, namun ia selalu memanfaatkan waktunya untuk membaca dan menggali informasi mengenai hal-hal menyangkut pelajaran seperti sekarang. Ia sangat kritis. Maka dari itu, setiap kelompok yang tampil tidak akan lepas dari pertanyaan maupun sanggahan dari Rara. Itu juga yang membuat dosen-dosen menyukai aktifnya Rara saat berada di dalam kelas.
“Maaf ya Ibu potong sedikit presentasinya, ibu mendapatkan kabar baik bahwa akan diadakan pertukaran pelajar antara mahasiswa dari kampus ini dengan mahasiswa di Malaysia. Dan yang terpilih adalah teman sekelas kalian.” Segala perhatian pun tertuju pada Dosen yang berbicara di depan.
“Bu, emangnye siape yang jadi peserta pertukaran pelajar tuh?,” tanya salah satu mahasiswa.
“Kita ucapkan selamat kepada Tyo. Dia yang akan menjadi perwakilan dari kelas kalian.”
Kelas pun bergemuruh, dengan tepuk tangan yang meriah dari semua mahasiswa belum lagi berbagai pujian yang dituturkan kepada Tyo oleh teman-temannya. Mata Rara pun diam-diam melihat Tyo dengan perasaan kagum. Tyo adalah pria yang ia temui saat di perpustakaan tadi. Rara bersikap seperti tadi, karena ia gugup dan tidak tau harus menjawab apa.
Jauh di dalam lubuk hati Rara yang sesungguhnya, ia menaruh perhatian lebih kepada Tyo. Entah perasaan apa, ia hanya memendamnya saja. “Selamat ya Tyo! Aku tahu kamu memang bisa diandalkam”gumam Rara dalam hati. Sambil tersenyum Rara memperhatikan Tyo yang tertawa bahagia bersama teman-temannya.
***

Beberapa bulan telah berlalu, waktu untuk Tyo bertahan di kampus ini tidak lama lagi sebelum ia akan pergi ke Malaysia dan melanjutkan kuliahnya di sana. Matanya tertuju kepada seorang gadis yang duduk di taman kampus, sambil terhanyut terbawa buku yang dibacanya. Ada rasa ingin menemui dan mencoba mengajak bicara dia. Tapi, Tyo sedikit ragu. Ia pun memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Hai Ra, assalamualaikum.”
“Iya, waalaikumsalam,” jawab Rara sedikit canggung.
“Kalau boleh tahu, kamu lagi baca apa?” tanya Tyo, sambil duduk dengan mengambil jarak agak jauh dari Rara.
“Buku ini!” ucapnya sambil menunjukkan sampul depan buku yang di bacanya. Disana bertuliskan “Assalamualaikum Beijing” karya Asma Nadia.
“Oh, ini novel yang bagus.”
Rara hanya tersenyum simpul dengan kepala sedikit merunduk.
“Ra, boleh aku bertanya satu hal?”
“Iya, apa?”
“Mengapa kamu tidak mencoba bergaul dengan teman-teman di kelas?”
Rara agak tergamam mendengar pertanyaan yang dituturkan Tyo. Ia pun lalu menjawab, “ Aku kurang percaya diri berhadapan ataupun berbicara dengan mereka. Terkadang aku merasa aneh jika berada di dekat orang lain.”
“Kamu seharusnya tidak boleh seperti itu, kita hidup harus ada interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Karena kita adalah makluk sosial, yang saling ketergantungan satu sama lain. Kamu harus bisa membuka diri, agar kamu tidak lagi sendirian!” ucap Tyo dengan seutas senyum terukir di bibirnya.
Rara pun mulai berpikir bahwa perkataan Tyo ada benarnya. Ia seharusnya tidak boleh minder dengan dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan menjadi kebutuhan setiap manusia sebagai makhluk sosial untuk menjalin interaksi yang baik antarsesama.
“Makasih ya Tyo, atas nasehatnya. Insyaallah, aku akan berusaha lebih membuka diri dan tidak minder lagi untuk berinteraksi dengan orang lain.”
“Iya sama-sama,”
Di mulai dari percakapan singkat inilah, kedekatan antara Rara dan Tyo terjalin. Mereka menjadi sering berdiskusi, mengerjakan tugas serta membahas segala hal bersama. Bukan hanya itu, Rara juga sudah mulai memiliki teman di kampus. Rara bersyukur memiliki teman dekat atau bisa dibilang sahabat seperti Tyo. Akan tetapi, mereka sudah harus terpisah karena Tyo akan berangkat ke Malaysia. Bersama dengan orangtua Tyo dan beberapa teman di kampus serta dosen, turut serta melepaskan Tyo pergi untuk menimba ilmu di negeri tetangga.
Setibanya pesawat yang di naiki Tyo akan lepas landas, ibunya Tyo berbicara kepada Rara.
“Kamu yang namanya Rara ya?”
“Iya bu, saya Rara. Ada apa ya bu?”
“Sebelum pergi Tyo menitipkan surat ini untuk kamu!”
Ibu itu pun menyodorkan sebuah surat untuk Rara. Ia pun lalu mengambil surat itu. Setelah itu, ia membacanya sambil duduk di sebuah bangku.

Dari: Tyo
Untuk : Rara
             Assalamualaikum Ra. Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak di dekatmu lagi. Aku senang dengan perubahanmu sekarang. Sebenarnya diam-diam aku selalu memperhatikan kamu. Maaf jika kamu tidak menyukainya! Akan tetapi, ada perasaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Entah perasaan sayangkah atau apa, aku juga tidak tahu! Hanya Allah yang Maha Mengetahui saja yang tahu apa isi hati yang kubawa hingga saat ini.
            Aku tak menyangka kita bisa bersahabat sampai saat ini. Seperti yang kau tahu, dulu kamu orangnya cuek dan sangat canggung kalau sudah berbicara dengan orang lain. Pertama kali aku mulai memberanikan diri untuk mengajakmu bicara, aku juga canggung sehingga kata-kata yang ingin kuucapkan pun hilang begitu saja. Tapi, sudahlah! Aku sangat bersyukur kamu bisa memahami sedikit nasehat yang kuucapkan kemarin. Dan aku berharap, tali silahturahmi antara kita tidak terputus hanya karena jarak yang memisahkan.
            Tetap semangat Ra! Jaga rasa percaya dirimu itu, dan jangan pernah minder lagi dengan kemampuan yang kamu miliki. Be yourself, trust with your skill!!
Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah SWT ya! Wassalamualaikum Wr. Wb. ^_^

Tulisan di dalam surat itu begitu singkat, akan tetapi penuh makna. Terutama untuk Rara. Tak terasa airmatanya menetes karena haru dan sedih bercampur menjadi satu berkecamuk di dalam hatinya saat ini. Ia tak menyangka bahwa Tyo juga selalu memperhatikan dan mempunyai perasaan kepada Rara.
 “Terimakasih Tyo untuk semuanya! Semoga Allah SWT mempertemukan kita lagi suatu saat nanti! Dan aku akan selalu ingat nasehat-nasehat yang selalu kau berikan.” Rara pun tersenyum sambil menghapus airmata di pipinya. Entah takdir apa yang akan mempersatukan mereka nanti, hanya Allah-lah yang tahu segalanya.

Rabu, 21 Desember 2016

SEKILAS DESA DABONG, KUBU RAYA

SEJARAH DESA DABONG
    
Desa Dabong termasuk wilayah Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Jarak dari Desa Dabong ke Provinsi yaitu Kota Pontianak kurang lebih 80 km, sedangkan jarak ke ibu kota Kabupaten kurang lebih 65 Km.
Desa Dabong berdiri pada tahun 1791 atau lebih dari dua abad yang lalu yang didirikan oleh Juragan Muhammad Shaleh yang melakukan perniagaan dan penyebaran agama islam dari daerah ke daerah. Sebelum terdampar di Desa Dabong Juragan Muhammad Shaleh pernah singgah di daerah Tanjung Shaleh Kecamatan Sungai Kakap dari Tanjung Saleh dalam perjalanan pulang hendak ke Riau ketika melewati Muara Dabong kapalnya kandas dan pecah sehingga bersama belasan penumpang lainnya ikut terdampar di Desa Dabong. Merasa tidak bisa melakukan perjalanan pulang ke Riau maka Juragan Muhammad Shaleh beserta pengikutnya mulai membuka perkampungan dan dinamailah dengan Benua Dabong. Istilah Dabong menurut orang-orang tua bahwa nama tersebut diambil dari nama pohon (Istilah ini belum bisa di uji kebenarannya Karena belum pernah ditemukan pohon yang namanya Dabong)
Juragan Muhammad Shaleh dikaruniai tiga orang anak dan nama-nama anaknya diambil dari nama – nama khulafaurrasyidin yaitu Umar, Usman, dan Ali.
Makam Juragan Muhammad Shaleh terletak di sebelah utara Desa Dabong termasuk makam istri dan anak-anaknya oleh warga makam beliau ditandai dengan cat berwarna kuning dan diatasnya dibangun rumah dengan ukuran 2x1,5 meter, bahkan ada keturunannya menganggap kuburannya sebagai keramat. Dari ketiga anaknya tersebut keturunannya telah tersebar dibeberapa daerah yaitu Keturunan Umar sebagian besar anak cucunya berada di Sungai Jawi Pontianak, sebagian juga berada di Kabupaten Sintang dan Desa Olak-olak kubu. Keturunan Usman sebagian besar berada di Padang Tikar dan sebagian di Dabong. sedangkan keturunan Ali sebagian besar berada di Dabong dan Kampung Kapur Pontianak. Sekitar tahun 1825 Juragan Muhammad Shaleh mulai membuka areal perkebunan kelapa, bukti areal perkebunan kelapa yang tergolong tua  pada tahun 1970-an masih bias ditemukan sisa-sisa batang-batang kelapa yang telah mati yaitu diwilayah utara timur laut Desa Dabong yang sekarang sudah menjadi kawasan hutan mangrove oleh pemerintah, namun sampai sekarang kita masih bias menemukan jejak-jejak areal perkebunan yang masih ada yaitu banyak ditemukan saluran parit didalam hutan mangrove tersebut yang masih tertata rapi.
Berdirinya Kerajaan Kubu sebelum diletakkan di Desa Kubu Kecamatan Kubu, Raja Kubu pada waktu itu pernah terlebih dahulu singgah ke Desa Dabong, dirasakan oleh Raja Kubu tidak memungkinkan untuk mendirikan kerajaan disitu, maka Raja Kubu kemudian pindah ke Desa Kubu. Dengan terbentuknya Pemerintahan Kerajaan Kubu maka Benua Dabong bergabung dengan Pemerintahan Kerajaan Kubu.
Dahulunya daerah Benua Dabong adalah pusat pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Punggawa yang bernama Muhammad Denan dan di bawahnya terdiri dari Kampung Dabong, Kampung Sembuluk, Kampung Mengkalang Jambu, Kampung Mengkalang Guntung, Kampung Sungai Selamat, Kampung Seruat II, Kampung Seruat III, dan Olak-olak Kubu yang pada waktu itu belum dinamai sebagai kampung.
Terbentuknya Desa Olak-olak Kubu pada awalnya yaitu ketika diusulkannya  program transmigrasi oleh Punggawe M. Denan untuk di tempatkan di Kampung Dabong, yang pada waktu itu dipimpin oleh Kepala Kampung Bapak Ramli H. Bakar.
Setelah terbentuknya daerah transmigrasi Olak-olak Kubu maka segala Pembinaan tetap merupakan tanggungjawab Jawatan Transmigrasi, dari situlah cikal bakal terbentuknya Desa Olak-olak Kubu, ketika daerah transmigrasi tersebut bisa berkembang dan mampu untuk membentuk pemerintahan sendiri maka terbentuklah Desa Olak-olak Kubu. Disaat itu juga semua kampung dibawah naungan Benua Dabong memisahkan diri menjadi Desa masing-masing. Pada tahun 1989 Desa Sembuluk diregrouping ke Desa Dabong karena belum dianggap layak untuk menjadi pemerintahan desa yang otonom, Desa Sembuluk pada waktu itu dipimpin oleh Kepala Desa yang bernama Bapak Kunang Ahmad dan Desa Dabong dipimpin oleh Kepala Desa Ismail H. Bakar. Bahwa berdirinya Desa Dabong sebelum berdirinya Kerajaan Kubu dan menurut sejarahnya bahwa Kerajaan Kubu lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Pontianak.

KEADAAN GEOGRAFI

Luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk Desa Dabong  merupakan  salah satu faktor pendukung dan potensi dalam melaksanakan otonomi Desa. Secara umum, luas wilayah Desa Dabong adalah 23.600 Ha dengan luas daratan 15.100 Ha, dengan luas perairan 3.600 Ha dan luas hutan lindung seluas 4.895 Ha. Batas wilayah Desa Dabong itu sendiri berbatasan langsung dengan Desa Olak-Olak Kubu di sebelah utara, Desa Mengkalang Jambu di sebelah barat, berbatasan dengan laut/Kecamatan Batu Ampar di sebelah selatan dan berbatasan dengan Sungai Kapuas/Desa Kubu di sebelah timur. Desa Dabong terdiri dari 3 dusun, yaitu Dusun Mekar Jaya, Dusun Meriam Jaya dan Dusun Selamat Jaya.

KEADAAN KEPENDUDUKAN

Menurut informasi yang peneliti dapatkan di Kantor Desa Dabong, bahwa jumlah penduduk Desa Dabong berjumlah 2.354 jiwa, yang terdiri dari 1.233 jiwa laki-laki dan 1.121 jiwa perempuan serta Kepala Keluarga yang berjumlah 582. Berdasarkan jumlah penduduk per dusun, Dusun Mekar Jaya berjumlah 1.146 jiwa, terdiri dari 605 jiwa laki-laki dan 541 jiwa perempuan serta 289 Kepala Keluarga. Jumlah penduduk Dusun Meriam Jaya berjumlah 911 jiwa, terdiri dari 481 jiwa laki-laki dan 430 jiwa perempuan serta 220 Kepala Keluarga. Jumlah penduduk Dusun Selamat Jaya berjumlah 297 jiwa, terdiri dari 147 jiwa laki-laki dan 150 jiwa perempuan serta 73 Kepala Keluarga

PUISI SPESIAL HARI IBU

Untukmu, Wanita Hebat
oleh: Novie Anggraeni 
Club Menulis IAIN Pontianak

Ibu..
Sebuah panggilan yang Indah untukmu..
Dari kami belum lahir di bumi..
Engkau selalu menjaga kami..
Mengasuh kami dengan Kasih sayang..

Masa kecilku Indah bersamamu..
Tak terkira berapa banyak tenaga yang terkuras..
Tak terkira seberapa sabarnya..
Engkau hadapi kami..

Tangis kami, Sumber kebahagiaanmu..
Gerak aktif kami, Sumber kekuatanmu..
Sentuhan lembutmu, menjaga kami..
Pelukan hangatmu, menenangkan hati..

Hingga kini kami tlah beranjak dewasa..
Kau slalu mengingatkan kami..
Ketika kami salah..
Kau selalu menyemangati kami..
Ketika kami hampir terjatuh..

Ibu..
Entah berapa banyak air mata yang kau hapus?
Entah berapa banyak luka hati yang kau sembunyikan?
Maafkan kami bu.. Maaf..

Maafkan kami, yang selalu membuat air matamu terjatuh..
Maafkan kami, yang terkadang tanpa sengaja membuat luka di hatimu..
Maafkan kami, yang terkadang tak peduli akan nasihatmu..
Maafkan kami, yang selalu menguras habis kesabaranmu..

Namun.. ketahuilah Ibu..
Kami menyayangimu, sungguh sayang padamu..
Kami berharap Sang Khalik menyediakan waktu untuk kami membahagiakan mu..
Melukis senyum Indah di bibir mu..

Tapi..
Ketika akhir waktu kita tlah tiba..
Ku percaya bu..
Sang Maha Pencipta tlah menunggu mu di Surga.. 

"Untukmu yang melahirkan dan membesarkanku. Dan untuk seluruh wanita hebat di Indonesia"
SELAMAT HARI IBU 😊

22 Desember 2016